![]() |
| Ilustrasi |
BANGKITPOS.COM, Pengamat Politik Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap menilai terlalu terburu-buru Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai debutan langsung memberikan dukungan kepada Presiden Joko Widodo untuk maju pada Pemilihan Presiden 2019.
Sementara dukungan itu pun tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap elektabilitas Jokowi. Apakah PSI hanya jadi partai penggembira?
"Tidak ada pengaruhnya sama sekali pada elektabilitas Jokowi. Tak usahlah PSI. Toh, dukungan empat parpol (Golkar, Hanura, Nasdem dan PPP) yang menjadi peserta Pemilu 2014 pun tidak berpengaruh positif terhadap elektabilitas Jokowi. Terbukti dukungan empat paprol itu justru elektabilitas Jokowi menurun dari sebelumnya di atas 50 persen menjadi di bawah 50 persen," ungkapnya dilansir rilis.iddi Jakarta, Sabtu (23/9/2017).
Muchtar mempertanyakan eksistensi PSI sebagai partai politik. Menurutnya, saat ini PSI hanya parpol di masyarakat bukan partai peserta pemilu, apalagi partai yang memiliki kader di parlemen.
"Seharusnya, PSI memfokuskan diri pada penjumlahan kader, membangun kekuatan internal agar pada saat verifikasi partai oleh Komisi Pemilihan Umum, partainya lolos dan bisa mengikuti Pemilu 2019," ujarnya.
Ironis bagi PSI. Menurut Muchtar, partai sekelas PDI Perjuangan yang menjadi pemenang pemilu pun tidak terburu-buru mendukung Jokowi. "Apalagi belum ada kepastian bahwa Jokowi akan menjadi capres pada Pilpres 2019," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, PSI menyatakan dukungannya kepada Presiden Joko Widodo dalam untuk maju pada Pilpres 2019mendatang.
Menurut Ketua Umum PSI, Grace Natalie, setelah partainya lolos verifikasi KPU sesuai amanat Mahkamah Konstitusi (MK), maka partainya tidak ragu-ragu untuk mengusung maupun mendukung Jokowi sebagai capres 2019.
"Kami siap mendukung Jokowi di 2019," kata Grace. [rilis]

COMMENTS