![]() |
| Jajang C. Noer |
BANGKITPOS.COM, Istri sutradara Film G30SPKI Arifin C Noer, Jajang C Noer membantah pernyataan Sukmawati Soekarnoputri bahwa film tersebut banyak bohongnya, rekayasa dan pembuatannya di bawah tekanan tentara. “Mas Arifin tidak mungkin mengerjakan sesuatu yang tidak diyakini. Film ini untuk bangsa mengetahui sejarahnya dan membuatnya dengan penuh cinta untuk bangsa,” kata Jajan di acara ILC tvOne, Selasa (19/9).
Baca juga:
Pesantren Takeran Saksi Bisu Pemberontakan PKI 18 September 1948
Pemutaran Film G30S PKI, Panglima TNI: Jangan Sampai Kejadian Lama Terulang Kembali!
Jokowi Tegaskan akan Tindak Penyebaran Komunisme
TNI Nobar G30S/PKI, Jokowi: Nonton Film Sejarah Itu Penting
Baca juga:
Pesantren Takeran Saksi Bisu Pemberontakan PKI 18 September 1948
Pemutaran Film G30S PKI, Panglima TNI: Jangan Sampai Kejadian Lama Terulang Kembali!
Jokowi Tegaskan akan Tindak Penyebaran Komunisme
TNI Nobar G30S/PKI, Jokowi: Nonton Film Sejarah Itu Penting
Jajang mengatakan, sebelum membuat film tersebut Arifin kesulitan menemui orang-orang PKI dan hanya bertemu Sjam Kamaruzzaman dan banyak diamnya ketika ditanya. “Arifin tanya tentang kebiasaannya Aidit, dan Kamuruzzaman bilang biasa saja, ditanya tentang Aidit merokok dan Kamuruzzaman hanya jawab ya, seperti orang biasa saja,” kata Jajang. Jajang juga mengatakan, Arifin membuat Aidit merokok, untuk menggambarkan kegawatan saat itu. “Arifin tidak membuat adanya penyayatan terhadap para jenderal, adanya darah itu merah jenderal, hanya membawa pisau, tidak ada indikasi mencokel mata jenderal,” ungkap Jajang.
Baca juga:
TNI Klaim Jenderal Gatot 'Diserang' 70 Akun Penyebar Hoax
Film G30S/PKI Diputar Kembali Serentak, Tak Ada Ruang Lagi bagi Komunis di Indonesia
MUI Dukung Pemutaran Kembali Film G 30 S/PKI di Stasiun TV
Soal Nobar Film G30S/PKI, Panglima TNI: Itu Perintah Saya, Mau Apa?
Gus Solah: Minta Maaf ke PKI, Jokowi Lukai Umat Islam dan Rakyat
Jajang C Noer dan Salim Said Pastikan Film G30S/PKI Bebas Intervensi Orba
Ia juga membantah pernyataan Sukmawati bahwa pembuatan film itu dapat intervensi dan diawasi tentara terus. “Tidak benar mendapat intervensi dan diawasi terus, secara estetis dibebaskan,” ungkapnya. Selain itu, ia menceritakan awal pembuatan itu awalnya Direktur PPFN G Dwipaya bertanya ke Goenawan Mohamad tentang sutradara yang bisa membuat film. “Goenawan menajwab Teguh Karya dan Arifin C Noer. Dan Dwipayana memilih Arifin C Noer,” ungkap Jajang. [sn]

COMMENTS