![]() |
| Ilustrasi |
Menurutnya teknologi nuklir pertama kali digunakan untuk perang, yaitu pada waktu Perang Dunia II. Sehingga munculnya memang bukan untuk keperluan damai, namun justru untuk keperluan perang duluan. Barulah setelah perang dunia berakhir, para ilmuwan menemukan cara untuk memanfaatkan energi nuklir yang dahsyat untuk keperluan pembangkitan listrik.
"Tapi mengingat asal usul teknologi nuklir memang awalnya untuk perang, wajar bahwa image perang tidak bisa dihilangkan dari teknologi nuklir. Kadang-kadang orang malah menyamakan antara PLTN dengan senjata nuklir, walau sebenarnya itu tidak tepat, " ujar Andhika yang juga alumni Teknik Nuklir UGM ini.
Andhika yang juga asisten penelitian Teknologi Energi Nuklir menjelaskan jika pandangan sebagian orang yang menyangka akan ada skenario perang nuklir kemungkinan besar hanya ada dalam film-film atau novel fiksi ilmiah, yang menurutnya skenario itu memang menarik.
Andhika yang juga asisten penelitian Teknologi Energi Nuklir menjelaskan jika pandangan sebagian orang yang menyangka akan ada skenario perang nuklir kemungkinan besar hanya ada dalam film-film atau novel fiksi ilmiah, yang menurutnya skenario itu memang menarik.
Akan tetapi menurutnya, yaitu perang nuklir tidak benar-benar bisa terjadi. Dalam pandangannya doktrin perang nuklir adalah siapa yang menyerang duluan, dia yang menang. Negara yang terkena hantaman senjata nuklir terlebih dahulu mentalnya akan turun drastis bahkan ambruk.
"Tidak ada ceritanya saling serang menyerang. Paling buruk, dampak yang akan terjadi adalah mutually assured destruction, alias kedua pihak sama-sama hancur. Saya tidak yakin ada negara yang siap dengan skenario seperti ini, sekalipun itu negara adidaya, " pungkasnya. [ar]

COMMENTS